Danantara Siapkan 10 Proyek Hilirisasi Baru
Jakarta: Investasi Strategis Senilai Rp600 Triliun Ditargetkan Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Lapangan Kerja
Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara, atau Danantara, mengumumkan rencana ambisius untuk mempercepat agenda hilirisasi nasional.
Setelah sukses meresmikan enam proyek awal, lembaga ini bersiap melakukan groundbreaking pada 10 proyek tambahan pada pekan mendatang.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari peta jalan besar yang mencakup total 21 proyek strategis sepanjang tahun 2026. Proyek-proyek tersebut diperkirakan menelan investasi mencapai Rp600 triliun.
"Minggu lalu kita selesaikan groundbreaking enam proyek, di antaranya smelter bauksit, bioetanol, dan poultry (unggas). Minggu depan akan ada 10 proyek dari total 21 yang akan kita lakukan groundbreaking di 2026," ujar Dony dalam forum Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa 10 Februari 2026.
Dampak Makroekonomi dan Kemandirian Industri
Inisiatif hilirisasi ini dirancang untuk mengubah posisi Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain kunci dalam rantai pasok bernilai tambah tinggi.
Dony menegaskan bahwa fokus utama dari ekspansi ini adalah penciptaan lapangan kerja secara masif dan penguatan fundamental ekonomi nasional.
"Dampaknya signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan tentu memberikan dampak lapangan kerja yang signifikan bagi seluruh rakyat Indonesia," tambah Dony.
Rekapitulasi Enam Proyek Perdana
Sebelumnya, Danantara telah memulai pengerjaan enam proyek strategis yang mencakup berbagai sektor vital:
Sektor Mineral (MIND ID): Pembangunan Smelter Aluminium baru dan Refinery Alumina di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini diproyeksikan meningkatkan nilai tambah bauksit hingga 70 kali lipat dan berpotensi meningkatkan cadangan devisa hingga 394%.
Energi Terbarukan (PTPN III & Pertamina): Pabrik Bioetanol Glenmore Fase 1 di Banyuwangi dengan kapasitas 100 KLPD untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi emisi.
Bahan Bakar Hijau (Pertamina): Proyek Biorefinery Cilacap yang mengolah minyak jelantah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) guna mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan.
Sinergi BUMN (Pertamina & SGN): Pengembangan bioetanol berbasis tebu di Jawa Timur yang menargetkan pemberdayaan lebih dari 4.000 petani lokal.
Kemandirian Garam (PT Garam): Transformasi industri garam melalui teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Sampang dan Gresik untuk memenuhi kebutuhan garam industri nasional.
Ketahanan Pangan (ID FOOD): Fasilitas Hilirisasi Poultry Terintegrasi di Malang serta lima lokasi lainnya di Indonesia guna memperkuat rantai pasok pangan domestik.
Melalui integrasi berbagai sektor ini, Danantara optimistis bahwa penguatan hilirisasi akan menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi Indonesia di tengah dinamika pasar global tahun 2026.(*)
